Bandara Terakhir
Kesekian kali raga ini hanya sunyi melebur, mengempu tawang di gairi hujan lebat. Menyerana dengan pikiran penuh kemelut. Angin petang kalakian beriak di luar sana, mendepak dedaunan yang tak segelintir untuk ruai. Haikal, untuk hari ini. Berulang lagi. Rasa kehilangan yang tak membesuk menyurut, dan nestapa yang kian tak kunjung pulang. Sampul surat yang pernah kau agih tak lepas dari perekatnya, enggan ku ungkap. Aku takut, takut rasa melintir ini bisa membantaiku pelan-pelan. Lantaran jika sudah cacat tak tersisah, mau ku jamah kemana obatnya? Tatkala kamu tak ada di sini. Haikal, apa kamu juga serupa? Sama seperti aku, yang tertawan dalam perhimpunan sempit itu yang lebih lama kenangannya beranjak melukai jika diingat? Begitu berjejak serupa tinta permanen. Kepala ku menyuruk, merayap lemah akan keadaan. Hujan berimbuh kasar berluruhan, menimang-nimang estimasi malam ini. Kesedihan ku mulanya mengusir timbangan untuk rampung, seolah berkawan dengan hujan. Haikal, aku amat rindu pad...