Bandara Terakhir

Kesekian kali raga ini hanya sunyi melebur, mengempu tawang di gairi hujan lebat. Menyerana dengan pikiran penuh kemelut. Angin petang kalakian beriak di luar sana, mendepak dedaunan yang tak segelintir untuk ruai.

Haikal, untuk hari ini. Berulang lagi. Rasa kehilangan yang tak membesuk menyurut, dan nestapa yang kian tak kunjung pulang. Sampul surat yang pernah kau agih tak lepas dari perekatnya, enggan ku ungkap. Aku takut, takut rasa melintir ini bisa membantaiku pelan-pelan. Lantaran jika sudah cacat tak tersisah, mau ku jamah kemana obatnya? Tatkala kamu tak ada di sini.

Haikal, apa kamu juga serupa? Sama seperti aku, yang tertawan dalam perhimpunan sempit itu yang lebih lama kenangannya beranjak melukai jika diingat? Begitu berjejak serupa tinta permanen.

Kepala ku menyuruk, merayap lemah akan keadaan. Hujan berimbuh kasar berluruhan, menimang-nimang estimasi malam ini. Kesedihan ku mulanya mengusir timbangan untuk rampung, seolah berkawan dengan hujan.

Haikal, aku amat rindu padamu. Dan malam ini, awal perjumpaan itu rujuk berulang serupa film dokumenter yang membawat.

♡♡♡

Akar pagi memperlihatkan terik baskara yang menyuluh cukup panas, sesekali aku menuakan kerubungan orang yang bergerak acap menepi, tak banyak juga insan memutuskan jalan tenang menikmati awang-awang yang menghilir sejuk.

"Ada kabarnya?" Aku menoleh, melantas menggeleng, "nggak ada, Ren." Reno menyemburkan napas kasar, menyidik ulang gugusan pengurus hijau tua di bagian ujung, juga mereka menatap kami menyudikan kepastian.

"Ck, ketua macam apa telat dari anggota sendiri?" Bibirku hanya mampu sengap, untuk kesekian kali Reno menggerundel mengeluh akan peragai Diana yang minim disiplin itu.

"Tolong telpon lagi, kalau nggak ada kabar, seperti biasa," habis menitahkan, Reno pergi meninggalkan ku, tubuhku yang sejak tadi menjadi sasaran amukan Reno mulai merosot, terperenyu di atas kedera plastik. Mencoba mengontak Diana kembali.

Namun hanya deru tak terjawab yang berbunyi.

Ingin rasanya aku merauk gentas udara di dunia ini, mengaupnya dengan rakus guna melucutkan amarah yang kian menampung. Tiga puluh detik telepon itu justru diangkat suara sepur, dan secara gamblang dari kejauhan Reno berdengking menyeruku. Orang itu sudah hiruk sekali.

"Zeta, cepat kita mulai prakata dulu." Aku hanya menyetujui, mencoba tunah hati saat menghadapi laki-laki itu. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan kencang.

Dan suara hantaman terdengar redup. Insiden itu terjadi. Di sela-sela ambisi Diana datang hari itu justru tubuhku tersandung pundak seseorang yang juga menarik langkah dari arah terpatok.

Dengan buru-buru isi kepala yang tak lagi fokus, aku hanya menunduk menemukan topi merah yang digenggam, meminta maaf sesudah itu menyusuli Reno yang sudah meratap tak sabaran.

Di sinilah aku mulai merangkai segalanya, di saat pertemuan pertama ku dengan dia. Dia dan topi merahnya.

♡♡♡

Agenda yang diselenggarakan PEKA dari SMAN 1 Bandung sudah berproses di hari akhir, aku benar-benar berlega hati untuk hari ini Reno tak menggerutu seraya mengacu jaringan lain yang menghilir berpartisipasi dalam pembersihan sampah lima hari di provinsi, sebab Diana datang tepat waktu tanpa wajah orang pidana yang merasa penuh bersalah. 

Kini aku tengah termendak dibangku para tetamu, di mana di atas tribune Diana tengah menyudahi program penutupan untuk kegiatan peduli konservasi alam yang diadakan dari PL (Pencipta Lingkungan) di sekolah ku.

Kurun waktu menuju pukul enam belas, tentu dalam terkaan detik orang-orang di belakang ku akan rampung penuh penat. Tapi tidak dengan ku, tubuhku masih menyeranah di tempat membumbun tribune yang sudah sepi, hembusan napasku cukup lelah. Ada satu hal yang mengganggu ku sejak tadi.

Si topi merah, aku tidak menemuinya sejak dua harian ini, terakhir kali aku melihatnya termendak di kursi yang saat ini aku duduki. Terdiam dengan kepala menyuruk, mengeja sebuah dokumen. 

"Kemana sih? Gue bahkan nggak tau dia dari organisasi mana." Kepala ku menyuruk sekelebat, merasa mungkinkan? Takdir menjumpaiku dengan laki-laki itu hanya semata tau, bahwa ada dia, si topi merah di dunia. 

Tubuh ku mulai bangun, menarik langkah meninggalkan tempat tanpa penuh antusiasme. membibit tote bag dengan tilikan ke tanah. Semoga ada.

"Ck!" Aku berdecak atas sentimen yang mulai tak karuan.

"Permisi?" Selintas aku menyerana, kepala ku mulai terangkat pelan, meneliti dari ujung kaki hingga tepat...

"Topi merah...."

"Sorry?" Mata ku berkedip, merasa tertegun sendiri. Wajahku sedikit berpalis berjerih payah untuk tidak tergelak secara terang-terangan. Berjuang tenang dari rasa riang.

"Kenapa kak? Ada yang bisa saya bantu?" Laki-laki itu tersenyum kecil, entah apa yang membuatnya demikian, yang harus aku sadari darinya adalah dia benar-benar luar biasa. Matanya seperti bulan sabit, hidung bangir yang kecil, dengan landang tiga di pipi kanan nya, belum lagi warna kulit sawo matang yang membuatnya terlihat percaya diri.

"Kamu sekretari PL SMANSA bukan? Zeta Meatana?" Aku mengerjap, Tuhan tolong netakkan kaki ku. Untuk saat ini aku berjumpa orang tanpa perlu berkenalan, tapi serius!! Aku tidak tahu apa tujuan si topi merah menyambangiku.

"Saya, Mea-maksudnya Zeta." Aku menggerutu kecil atas cakap kata yang eksesif. Ayolah Mea, jangan menciptakan kanal yang menggelikan. Sementara si topi merah mengiyakan.

"Nah Mea, saya Dearga Haikal, panggil aja Haikal, dari KKN UNSA jawa tengah."

"Dari penjelasan Reno dia bilang kamu yang mengurus data agenda ini, jadi saya mau minta tolong duplikat evidensi seluruh badan yang turut serta di agenda PEKA ini, bisa?" Aku membekam lengan, merasa mulai gugup, kenapa juga si topi merah menyebut nama kecil ku. 

"Mea?" 

"Bisa Kak, besok saya bawa ke posko KKN di seberang kan? Oke kalau gitu saya pamit dulu." Aku melangkah terburu-buru, tidak sanggup berjejak bahkan di ajak 
bicara laki-laki itu membuat rasionalitas ku goyah. Aku tidak bisa. Haikal benar-benar telah membuat ku jatuh cinta.

♡♡♡

Pagi ini hujan turun dengan lebat, bukan hanya itu news badnya, angin sendat terobos seluruh penduduk, bahkan wartanya ada temporer pohon rebah yang menjadikanku tak bisa kemana-mana. Hanya bermodalkan ongkos taksi, jadi apa jika aku keras kepala menerobosnya hingga ke ujung jalan?

Aku mengejam mata. Dan lagi-lagi kabar buruknya kenapa harus hujan di saat aku ingin membawa duplikat PEKA IN.

Semangat yang sudah aku bangunkan pagi pagi kini hanya sia-sia.
Tubuh ku menyamping sejenak, menyentak nokia guna mengontak Reno bahwa duplikatnya kebolehjadian akan lama datang, meninjau aku tidak punya duplikat dalam bentuk file.

Tiba-tiba denting ponsel ku berbunyi


Mata ku melintang sempurna saat membaca pesan masuk.

"Pagi Mea, saya Haikal anggota KKN yang minta data duplikat kemarin. Berkasnya bisa saya ambil sendiri? Hujan lebat, takut basah." Entah aku yang norak atau bagaimana, namun balasan pesan yang aku kirim saat itu adalah Iya. Seakan aku lupa keadaan udara yang buruk hari itu.

Dan keesokan harinya, Reno membuat ku berdebat dengan akal sehat. Pada awalnya aku tak tau sepenting apa data duplikat untuk program KKN, tapi dengan segala masukan tak masuk akal Reno, aku sadar apa yang membuat Haikal begitu rela menerjang hujan lebat. 

Haikal bukan semata-mata meminta berkas itu untuk keharusan program KKN. Tapi dari mata yang pernah Reno baca.

"Dia suka lo Zet."

"Lo bukan peramal."

"Tapi gue punya telinga. Dia bilang sendiri." 

Serupa dengan yang Reno beritahu, seumumnya memang mengejuti dan teruk untuk dipercaya. Bagaimana kaidah Reno mengesahkan ucapannya? Dengan cara konyol yang benar-benar membuat ku menyerana gendeng.

Dua hari selepas adu dalih, Reno mengajak Haikal untuk bersemuka di Kampung sampah menyatakan jika dia yang mengepalai agenda itu, namun dengan kilah beralasan apik, Haikal menolak jika dia ada kesibukan lain. Tapi lain lagi saat sambekala Reno menyatakan jika kedudukannya disulih olehku. Haikal bergegas meluncur hari itu.

Ini memang merebak waw... bisa begitu ya? Tapi itulah yang membuatku secercah percaya akan rencana pasaran Reno. Dan sehari selepas ke ketibaan Haikal, yang aku duga adalah alai-belai Reno, laki-laki itu mengajak ku jalan beralasan melihat kampung yang peduli akan sampah. Dan hari itulah, awal mula kami menukar nomor ponsel dan mulai berhubungan.

♡♡♡

Aku melirik tumpukan buku di teras posko, tempat di mana Haikal dan anggota-anggota KKN lainnya beralamat untuk 30 hari mendatang. Dengan menjimbit tote bag makanan, aku melangkah mendatangi pintu, hendak mengetuknya. Namun tahu-tahu arah dari dalam merebak suara orang mendedau.

"Haikal, cewek kamu!" Aku terperangah akan jeritan itu, melihat sipu sang empu yang tergelak, senang sekali mengarungi.

"Din, berisik masih pagi! Ngigo mana ada cewek ku pagi- Hai?" Aku tersenyum provokasi membuat Haikal melintangkan matanya, lantaran iras bangun tidur laki-laki itu masih terpapar, membuatnya menggerutu masuk ke dalam.

Rudin yang ada di teras terkekeh berdekak-dekak. Mungkin sudah jadi rutinitas pagi mereka menemui mimik Haikal yang awut-awutan. Rambut amburadul, mata yang menyipit belum sepenuhnya terbuka, tak lupa iler yang memeringkai diujung bibirnya.

"Biasa, Haikal emang jorok!" 

"Jangan ngompor kau Udin!"

Bukan hanya itu perihal tak terkira yang aku sua. Pernah sekali dua kali Haikal menemuiku dengan wajah belingsatan, lantas memekau, "maaf telat!!"

Dengan mimik yang gamam aku jelas memandangnya sumpil, "siapa yang telat? Perasaan kita nggak ada janji, kak." Dengan wajah meyakinkan aku justru membuat laki-laki itu tergelak tidak jelas.

Dan dengan mudah Haikal menyatakan, "ketemu pujaan hati nggak mesti janjian dulu, kan? Liat, aku kangen ya tinggal datang." bayannya penuh ceria. Hal-hal indah terus terulang dan entah apa sudah waktunya hingga akhir ini tiba.

Awal mula rasa sakit, takut, dan kecewa ditinggalkan. 
Awal dari semua rasa sakit yang kian membangun ruang kegundahan.

Air mata ku kembali menitik, rasanya jelas dan adicita nyaris sama. Bedanya hanya setipis tisu, tak jauh dari ideologi ku. Bahwa berselindung rasa kami berdua bersemuka pada penghujung kemunca.

Masa tak terkira sekaligus kata kesudahan ini. Aku memandangi boks tanda mata yang diagih Haikal tanpa ayal. Dengan serabut senyum, laki-laki itu mengatepi.

Kini kami berdua tengah berjejak membisu degan pertemuan yang disaksikan senja petang hari. Angin dengan segara bena mengusung surai kami melangit tak tentu arah, sama seperti mengacak-acak hati ku. 

"Maaf, Mea. Cuman nemanin kamu satu bulan." Air mata ku semakin menjadi-jadi derasnya. Semua kesenyapan diawali dengan kata maaf, aku seperti bisa menerka penghujungnya seperti apa. Sudah sebulan terbukti, tapi kenapa nostalgia kemarin rasanya dibuat butuh waktu satu tahun?

"Haikal, nggak balik?" Haikal tersenyum, tangannya mencuat menyapu air mata ku. Kepalanya berupaya kecil membuat ratapanku semakin melasat.

"Bandung tempat kamu dilahirkan. Kenapa nggak untuk menginjaknya kembali?" Haikal berderai air matanya. Seputar aku mengenalnya, Haikal tak menjelaskan dengan jelas apa pasal dia enggan mau bersemayam di Bandung lebih lama. Tapi argumentasi laki-laki itu bersiteguh adalah diriku, Haikal mau bertahan untuk ku lebih lama. 

"Tolong kamu nyusul aku. Mau ya?" Aku menyorong kotak yang dicukupi catatan bersampul. Entah apa saja nukila nya yang jelas aku amat gusar. Hatiku mulai digenapi egois, menatap Haikal keruh menolak. 

"Nggak bisa, aku nggak mau. Kita cukup di sini saja, percuma dilanjutkan kalau bikin luka. Lebih baik akhiri dan kita lupain semuanya." Tubuhku telah berpaling haluan, namun Haikal di balik sana berujar menahan.

"Mea, aku cuman mau ninggalin Bandung, bukan ninggalin kamu. Tolong bertahan untuk aku." Air mata ku kembali jatuh, menapik untuk menoleh.

"Haikal, sejak awal kamu juga tau. Aku bukan tipe orang yang kuat komunikasi jauh. Dan kabar kamu mau pergi ini tiba-tiba. Sejak kita ketemu, seharusnya kamu jangan maju, kalau kamu mau pergi." Aku menarik langkah lebur, meninggalkan Haikal yang hanya ranah membisu, tak ada lagi gerangan suaranya di belakang sana.

Dan dua hari sesudah perpisahan itu, kotak pemberian Haikal datang, memamerkan benda kuning itu yang di sahap rapat dengan penutup. Aku enggan membukanya, sampai lembar plano aku dapati tanpa sengaja. Sebuah surat putih dengan tinta yang mulai melesap.

"Mea, maaf. Aku lebih memilih meninggalkan kamu, sebab Bandung bukanlah tempat aku yang sebenarnya. Banyak perihal sulit yang nggak bisa aku lupain dan segalanya yang teringat terasa begitu mengoyak. Tapi pertemuan aku dan kamu di Bandung adalah salah satu kesan paling indah yang aku punya. Terima kasih karena telah membuatku jatuh cinta selepas benci, dan kini.. perasaan ku masih kamu pemiliknya. Maaf mungkin berat jika aku meminta kamu untuk menetap. Tapi, suatu hari nanti. aku harap kamu mau datang ke aku. Datang untuk memulai di kota yang baru, bukan bandung."

- Dearga Haikal, Bandung 20 Mei 2000

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu 05.48 AM ° Tera Muda au

Warkop Pertigaan °TeraMudaAu

Kita Tidak Searah