Dua Tulip
Mentari membakar langit Ibu Kota siang itu, menyulut aspal yang mulai mengelupas letih. Di tepi halte, Guaman berdiri kaku, tubuhnya dibungkus diam. Matanya terpaku pada sosok gadis bersandar di seberang, duduk tenang bersama setangkai bunga tulip putih yang selalu menemaninya. Entah sudah berapa hari Guaman melintasi halte ini hanya untuk melihatnya. Untuk sekadar mencuri pandang dari kejauhan. Baginya, gadis itu bukan sekadar manis. Ia adalah musim semi yang hadir di tengah Ibu Kota yang terik. Senyuman Guaman tak pernah lepas dari wajahnya, bagaimana gadis itu terus melamun memutar-mutar tangkai tulip. Mata gadis itu sendu, birai tipis dan hidung bangirnya. Gaun kuning yang ia kenakan seolah berasal dari masa lalu yang tak mampu Guaman ingat dengan jelas. "Cantik sekali dirimu." Bisik Guaman dalam hati. Ia ingin menyapa. Tapi kakinya selalu kalah oleh gugup yang menahan. "Siapa namamu?" tanyanya lirih, seperti sedang berdialog dengan angin. "Sampai hari ini ...