Dua Tulip
Mentari membakar langit Ibu Kota siang itu, menyulut aspal yang mulai mengelupas letih. Di tepi halte, Guaman berdiri kaku, tubuhnya dibungkus diam. Matanya terpaku pada sosok gadis bersandar di seberang, duduk tenang bersama setangkai bunga tulip putih yang selalu menemaninya.
Entah sudah berapa hari Guaman melintasi halte ini hanya untuk melihatnya. Untuk sekadar mencuri pandang dari kejauhan. Baginya, gadis itu bukan sekadar manis. Ia adalah musim semi yang hadir di tengah Ibu Kota yang terik.
Senyuman Guaman tak pernah lepas dari wajahnya, bagaimana gadis itu terus melamun memutar-mutar tangkai tulip. Mata gadis itu sendu, birai tipis dan hidung bangirnya. Gaun kuning yang ia kenakan seolah berasal dari masa lalu yang tak mampu Guaman ingat dengan jelas.
"Cantik sekali dirimu." Bisik Guaman dalam hati. Ia ingin menyapa. Tapi kakinya selalu kalah oleh gugup yang menahan.
"Siapa namamu?" tanyanya lirih, seperti sedang berdialog dengan angin. "Sampai hari ini aku tak tahu. Tapi, sungguh, kau adalah hal terindah yang pernah aku temui."
Dengan senyum tipis yang sama, Guaman pun berbalik arah. Pulang. Mengantongi rasa yang tak pernah ia ucapkan.
♡♡♡
Rumah kecil di ujung gang menyambutnya dengan aroma bawang putih dan tumisan yang menguar dari dapur.
"Assalamualaikum, Ibu. Guaman pulang."
"Waalaikumussalam, Nak."
Ibu Enda, wanita paruh baya yang wajahnya tak pernah lepas dari lembutnya doa, menyambut Guaman dengan senyum dan usapan lembut di rambutnya yang tebal.
"Masih belum berani bicara dengan gadis tulip itu, Guam?" tanyanya lirih.
Guaman hanya menggeleng, seperti biasa.
"Aku malu, Bu."
Enda mengangguk, namun matanya berembun. Ia membelai punggung anaknya perlahan, seolah meraba luka yang tak kasat mata.
Guamam tumbuh besar dengan banyak kehilangan. Ayah, adik... Rasih... semua pergi terlalu dini. Tapi Guam, ia masih berdiri. Dan Enda sekali dengan itu
Air matanya jatuh satu-satu, seperti hujan yang memilih menepi dulu sebelum deras.
♡♡♡
Hari berikutnya, Guaman berjalan di jalur yang berbeda. Ia tak lagi berdiri di halte. Ia kini berdiri di depan toko bunga kecil, tepat di seberang tempat ia biasa berdiri. Di balik kaca, gadis itu masih ada. Duduk, memunggungi vas besar yang penuh bunga tulip.
"Cantik sekali dirimu hari ini…" Guaman tersenyum tipis, mentari hari ini tidak begitu terik, mendungnya begitu sejuk. Sampai entah keberanian dari mana, Guaman mendekati tubuh gadis itu di balik kaca.
Bayangan tubuhnya terpantul di kaca, menutupi sebagian sinar matahari yang menyapa wajah sang gadis. Perlahan, gadis itu bergerak, menoleh sedikit meski matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Ada seseorang di sana. Apa kau... membutuhkan bunga?" Suara itu, suara yang pertama kali Guaman dengar dan pertama kalinya, air mata Guaman terjatuh. Gadis itu sudah di depannya, terduduk dengan mata menatap arah lain.
"Aku ingin memesan bunga," jawabnya pelan.
Gadis itu tampak terdiam, dia berusaha untuk menghadap Guaman dengan mata yang masih lurus. Ia tersenyum kecil.
"Maaf… jika kau tak keberatan, bisakah kembali nanti? Ayahku sedang keluar. Aku sendiri… tidak bisa melayani pesanan."
Guaman mengangguk. Tapi tatapannya belum berpaling. Ia masih menghafal setiap detail wajah itu.
"Aku buta," ucap gadis itu lirih. "Maaf... aku tak bisa melayani pesanan mu."
"Aku buta. Maaf tidak bisa melayani pesanan mu."
"Baiklah," balas Guaman, suaranya gemetar. "Besok, di jam yang sama. Aku akan datang lagi. Boleh?"
"Tentu."
"Terima kasih."
"Guaman."
"Yah?"
"Guaman. Namaku Guaman."
"Dan,... aku Garnasih."
♡♡♡
Keesokan harinya, Guaman terlambat dua hari. Hatinya dipenuhi rasa bersalah yang menyesak. Ia berlari menuju toko bunga dengan napas yang tak teratur.
Ketika ia tiba, seorang pria muda menyambutnya di balik pintu kaca.
"Permisi…"
"Kau Guaman?"
Guaman terkejut. "Bagaimana kau tahu?"
Lelaki itu tak menjawab. Ia hanya menyerahkan sebuket bunga tulip putih.
"Ini... titipan dari Garnasih." Guaman menerima bunga itu dengan tangan gemetar.
Dan lalu, selembar kertas disodorkan padanya.
"Dimana Garnasih?" Laki-laki itu terdiam sejenak.
"Bacalah, itu titipannya dua hari yang lalu. Katanya kau akan datang untuk membeli bunga, tapi bunga yang sudah disiapkan layu. Jadilah Garnasih mengambilnya dari tokoh seberang." Guaman menoleh, lalu membaca surat itu.
"Guaman...
Ini ditulis tangan ayahku, tapi isinya dariku. Terima kasih telah berani datang hari itu. Itu hari paling bahagia dalam hidupku. Ayah selalu bercerita tentang seorang pria yang setiap hari berdiri di seberang, memandangku dalam diam. Dan aku tahu itu kau. Karena setiap kau ada di sana, aku merasa sesuatu. Meski mataku telah gelap, hatiku masih bisa mengenali cahayamu. Kau adalah lelaki yang kucintai, bahkan sebelum aku buta."
"Garnasih?" Guaman terdiam. Tubuhnya bergetar hebat. Langit mendung seolah ikut menyimak isi surat itu.
"Dimana Garnasih?" bisiknya, nyaris seperti doa yang tercekat. Tak ada jawaban.
Ia keluar toko. Menyusuri jalanan dengan langkah tergesa. Tapi mendadak brak! sebuah suara keras mengguncang jalanan.
Tubuh Guaman terpelanting.
Bunga tulip dalam pelukannya hancur, namun satu tangkai putih masih erat di genggamannya.
Saat kesadarannya mulai memudar, ia mendengar suara samar.
"Guaman, kau akan kembali kan?"
"Doakan saja, Garnasih…"
"Aku ingin terus bersamamu."
"Iya, doakan."
"Garnasih, ternyata kau kembali. Maaf melupakan mu, maaf..." Sampai akhirnya Guaman memejamkan matanya dengan tanga memeluk erat bunga tulip itu. Tempat yang sama, di mana Garnasih berpulang. Guaman bagaikan pergi mengikuti bayang-bayang Garnasih.
Rasanya hatinya berdetak kencang, rasa detaknya mulai berbeda kala suara itu terdengar menelisik hati, ingatan, dan jiwanya.
"Apakah itu kau? Guaman?"
Komentar
Posting Komentar