Kita Tidak Searah
Di atas deburan ombak kaki ku berkali-kali terhempas, terbawa deras buih laut. Mata teduh ku yang lagi-lagi bengkak, tidak bisa aku hindari begitu tiba di tempat ini.
Hai, Laras. Aku kembali, ke tempat ini dengan harapan yang sama. Semoga takdir kita akan saling bertemu, dan kemudian rindu ini bisa aku lepaskan.
Laras, aku rindu padamu. Perihal wajah, suara, dan sikapmu. Segala keindahan dalam dirimu ingin segerah aku peluk dengan gratis kecupan di pucuk kepala.
Ah, sial. Apa aku boleh mengharapkan sosoknya yang sudah tidak lagi bersama ku? Aku tahu ini salah, tapi rindu bukanlah lawan yang bisa aku kalahkan. Ia akan memberontak, akan berlari mencari-cari induknya untuk bisa kembali legah.
Aku pikir aku bisa melupakan hari-hari kita. Tapi ternyata aku tidak bisa. Waktu yang kita habiskan, tidak sedetik terlupakan.
Bahkan aku masih ingat dengan jelas hari di mana kamu bercerita tentang interior pernikahan, membayangkan kita yang saling bersanding di atas venue di atas putih bersihnya pasir pantai.
“Sayang,” aku menoleh, memastikan kekosongan di samping ku disini dengan senyumanmu.
“Kalau kita bangun venue di sini too much nggak?”
“Bagus, nggak buruk. Toh indah banget malah. Kamu kenapa ragu?” Kala itu, genggaman kamu terasa nyata, eratnya seakan menjadi borgol bahwa kamu tidak akan pernah pergi.
“Ya, kan nggak lucu, sayang! Kalau kita asik foto-foto, tiba-tiba venuenya terbang, terus orang-orang yang harusnya sibuk bercengkrama malah harus lari ke sana ke sini ambil barang bawaan yang terbang.” Tawa ku pecah. Aku benar-benar tertawa dengan pikiran konyol itu. Ya walaupun tidak 80% salah, tapi itu bisa dihindari kan, mungkin dengan…
“WO profesional banyak, sayang. Kita nggak usah ragu buat itu. Yang penting, wedding impian kita jalan dengan lancar.”
“Kalau gitu fix ya, weeding kita di pantai ini.” Pantai Bali jadi tempat utamanya, tempat yang tidak pernah absen kami kunjungi, tempat yang selalu menjadi pelarian, kala kegilaan kita terhadap kesibukan masing-masing.
“Sayang,” Kali ini wajah Laras menoleh, senyuman di bibirnya akan selalu terukir, dan aku memastikan hal itu tidak boleh hilang.
“Gimana kalau-” Senyuman ku pudar. Bukan hanya senyuman Laras yang hilang, tapi sosok itu pun pergi.
Tangisan ku mulai pecah, seakan berlomba-lomba dengan terjangan air laut. Sakit sekali, rasanya ketika Laras ingin aku peluk lebih cepat, justru Ia memilih jarak, meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah habis dan sibuk menemani sepi ku.
Gadis itu tidak ada di Bali, Ia pergi jauh untuk mengejar mimpinya. Dan entah akan terjadi atau tidak, beribu-ribu mimpi yang kami bangun, di tempat ini, ditemani semilir angin, air laut, dan pasir apakah bisa terjadi.
“Jadi mimpi kita, pernikahan itu, semuanya cuman omong kosong?” Air mata Laras kala itu pertama kali aku lihat, jatuhnya seakan berubah menjadi belati yang menusuk-nusuk hatiku.
“Itu bukan omong kosong, Rash! Semua yang aku bilang ke kamu, itu mimpi aku.”
“Dari banyaknya mimpi kamu, kamu justru milih pergi? Kejar mimpi kamu yang jelas-jelas bakal ngehancurin semua mimpi kamu.” Amarah ku tidak bisa aku tahan, pecah begitu saja, di hadapan Laras yang bahkan aku pernah berjanji untuk tidak berteriak gila-gilaan di hadapannya.
“Aku tau, Rash. Makanya aku minta kamu buat tunggu.”
“Kita bisa nikah, Ras. Dan selepasnya aku bakal temanin kamu ke manapun kamu mau. Kamu kuliah aku bisa bantuin kamu di sana, pekerjaan aku juga nggak bakal mempersulit kita.” Kepala gadis itu menggeleng, air matanya semakin deras jatuh satu-persatu.
“Aku nggak bisa nikah secepat itu. Aku harus punya sesuatu yang kelak bisa aku banggakan untuk kamu.”
“Dengan kamu ada disisi aku dan aku ada di dekat kamu itu udah lebih dari cukup. Aku nggak perlu hal-hal semacam itu, laras.”
“Tapi ini impian aku! Kamu juga tahu seberat apa aku perjuangkan mimpi aku, kan? Sekeras apa dorongan orang tua aku buat aku bisa raih pendidikan tinggi.”
“Tapi dengan ninggalin aku,..” Aku menunduk, kemudian memaling. Aku marah, aku kecewa, kabar kepergiaan gadis itu yang tiba-tiba cukup membakar habis kewarasan ku.
Tangan ku terasa di tarik, Laras mengenggamnya dengan hangat, “aku janji, aku bakal pulang ke sini. Aku bakal ke sini begitu aku bisa raih apa yang aku punya.”
Egoku mengalah, mengubur harapan ku bahwa aku ingin pernikahan itu segerah. Tapi tidak dengan Laras, Ia tetap ingin sukses, mengejar mimpinya dan janjinya akan kembali.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun dan Laras tidak kunjung ada kabar. Apa perpisahan kami ini cukup menjanjikan untuk sebuah komitmen? Aku rasa tidak. Tapi bodohnya ego ku tidak mau melepaskannya.
Aku masih hidup di sini. Sendirian ditemani bayang-bayangnya.
Komentar
Posting Komentar