Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

Warkop Pertigaan °TeraMudaAu

Himar memutar setir dengan satu tangan. Pandangannya tenang, lehernya sedikit miring saat menatap pertigaan yang mulai ramai. Tempat ini memang bukan markas anak muda. Lebih sering dipenuhi banci-banci yang doyan nyapa duluan. "Mar kita jadi bahan fanservice gratis gini?" Addar bersandar malas di kursi, pandangannya menyapu dua sisi jalan.  "Lu diem aja Dar, jangan bikin eye contact, ntar dikira kita open BO." Addar semakin melebarkan matanya. "Gila lu?! Gue aja udah tahan napas dari tadi." Himar nyetir sambil tertawa, satu tangannya nutupin mulut, satunya tetap di setir. Mobil jalan pelan, tapi tawa dia udah nyaring seperti sirine. "Buset motor semua Dar. Udah kaya tempat lelang motor bodong." Itu satu hal yang mereka berdua sadari. Entah dari kiri kanan, semua jalan di penuhi motor, bahkan mereka tidak melihat ada mobil satu pun. "Dar, Dar, sumpah! Itu banci ngegas ke arah kita anjir." Himar memelankan mobilnya, sadar ada bapak-bapak ...

Waktu 05.48 AM ° Tera Muda au

Jam masih menuju pukul 05.48 A.M, di mana hawa masih memeluk dingin. Tuntas mematikan layar ponselnya, Himar mendengus kesal. Jikalau saja bukan karena Dara, mungkin sekarang ia sudah bisa ngopi di teras rumah sebelum berangkat ke kampus, bukan di waktu sepagi ini. Bahkan kucing jalanan yang biasanya ia temui di pintu masuk kampus belum juga kumpul untuk mengemis makanan. Ini dia sudah harus jongkok sendirian di depan pintu Studio yang entah kapan akan terbuka. "Kak Himar ya?" Laki-laki itu menoleh, mendapati perawakan manis yang tak asing. Matanya sedikit memastikan, "lu bukannya adiknya Pidi ya?"  "Ah yah, gue Satinah Hasmita, panggil aja Satinah kak." Gadis itu menyodorkan tangannya. Dalam posisi jongkok seperti ini membuat Himar bergegas bangkit dan membalas uluran tangan. "Yah, gue Himar Endru. Lu?" Satinah melepaskan tautan tangan mereka, menunjuk studio. "Gue managemen TM, kak." Himar jelas terkejut. Dia yang tidak pernah tau sos...

Secangkir Kopi dan Jiwa yang Patah

Aku hanya mengenal diriku lewat kopi yang ku teguk setiap malam, sebuah kebiasaan yang perlahan berubah menjadi rutinitas. Malam yang sunyi akan menjadi saksi bisu, saat aku meneguk tetesan kopi pahit, seolah ia memelukku erat, melindungiku dari keharusan untuk bangun di pagi hari. Karena jika aku terbangun di pagi hari, aku akan melihat mereka yang tertawa lepas, seakan beban yang kupikul tak pernah menghinggapi mereka, seolah rasa sakit yang setiap hari kuterima tak pernah menyentuh dunia mereka. Aku enggan melihat senyum lepas mereka, karena setiap kali mereka tersenyum, rasanya seperti menyaksikan pencuri kebahagiaan yang telah lama hilang dariku. Kopi menjadi pelindung dalam keheningan, menyelimutiku dari kerasnya kenyataan yang tak mampu ku hadapi. Satu cangkir, dua cangkir, hingga tubuhku mulai merasa lelah, dan kantuk mulai merayap. Aku tak peduli. Aku tahu, setelah itu, aku akan terlelap dalam tidur panjang, tak peduli dengan matahari yang akan terbit. Dalam hening malam ku, a...