Warkop Pertigaan °TeraMudaAu

Himar memutar setir dengan satu tangan. Pandangannya tenang, lehernya sedikit miring saat menatap pertigaan yang mulai ramai. Tempat ini memang bukan markas anak muda. Lebih sering dipenuhi banci-banci yang doyan nyapa duluan.

"Mar kita jadi bahan fanservice gratis gini?" Addar bersandar malas di kursi, pandangannya menyapu dua sisi jalan. 

"Lu diem aja Dar, jangan bikin eye contact, ntar dikira kita open BO." Addar semakin melebarkan matanya.

"Gila lu?! Gue aja udah tahan napas dari tadi." Himar nyetir sambil tertawa, satu tangannya nutupin mulut, satunya tetap di setir. Mobil jalan pelan, tapi tawa dia udah nyaring seperti sirine.

"Buset motor semua Dar. Udah kaya tempat lelang motor bodong." Itu satu hal yang mereka berdua sadari. Entah dari kiri kanan, semua jalan di penuhi motor, bahkan mereka tidak melihat ada mobil satu pun.

"Dar, Dar, sumpah! Itu banci ngegas ke arah kita anjir." Himar memelankan mobilnya, sadar ada bapak-bapak pakai dress hitam belahan paha di depan sana.

"Injak kopling lu Mar!" Addar refleks nutup wajahnya pake topi yang dia tarik dari dashboard mobil.

Himar melajukan mobilnya sedikit demi sedikit, membelok stir ke ujung pertigaan yang cukup sepi.

Mereka akhirnya nemu satu spot kosong yang bisa masuk mobil, meskipun harus dipaksa dan menyelinap di antara motor-motor yang parkir serampangan.

Himar langsung matiin mesin, dan tanpa aba-aba. "Dar gua duluan!"

Laki-laki itu sudah membuka pintu dan lari, teriakannya seperti anak kecil yang kabur dari kejaran pocong.

"Himar! Goblok lu!" Addar yang masih pegang HP cuma bisa bengong.

Tanpa mau berlama-lama, Addar pun turun menyusul dengan larian kecilnya. Matanya sibuk melihat-lihat di mana keberadaan Pidi. Tepat dalam sekali menelik, laki-laki itu sudah duduk di ujung sana.

"Enak banget lu ninggalin gue!" Addar memukul pelan ujung kepala Himar membuat laki-laki itu mengendus kesal.

"Ya gue panik, makanya survival mode on, ngerti nggak?" 

"Aneh lu berdua. Ke sini aja naik mobil."
Pidi udah duduk sendiri di meja bundar, ngadep ke jalan sambil memainkan HP. Mukanya kusut, bibirnya manyun, dan ekspresinya seakan menahan menyumpahi sesuatu.

Himar nyender dikit, tangan nyilang di meja, "emang ada undang-undang yang ngelarang orang ngopi pake roda empat?"

"Ngotak anjir, mobil lo menonjol sekali. Dari ujung jalan udah kayak showroom keliling," sahut Pidi memunculkan sedikit mukanya dari layar ponsel.

"Lu tuh, Mar!" Addar mendorong bahu Himar dari samping, "udah tau ke warkop doang, masih aja bawa mobil kinclong. Untung tadi gue gak nyalain lampu hazard, bisa dikira mau ngantar pejabat kita!"

"Emang salah gue mobil gua bersih? Biarin lah, gaya dikit."

Pidi merotasikan matanya, "Gaya apaan! Orang-orang liatin lu berdua tuh bukan kagum, tapi bingung. Ini bocah ngopi atau mau apa?"

Addar mangut-mangut, "gue sampe malu turun. Rasanya pengen pake helm aja anjir walau naik mobil."

"Yah sorry lah, kalo gaya hidup gue terlalu mengganggu ekosistem parkiran lo semua." Tawa Addar akhirnya pecah, lelucon apa itu.

"Pid," Pidi melirik. Matanya masih sibuk ke layar ponsel.

"Pesenin kita makan kek. Lu niat dikit napa teman lu nyamperin."

"Lu datang aja nggak di undang, mandiri dikit." Himar menoleh ke Addar, sedangkan muka orang itu sedang menduga-duga.

"Pesen makan dong Dar."

"Apaan?!"

"Ya bareng."

"Mau pesen apa mas? Manis kayak kamu ada, pedes kayak mantan pun ada."

Addar dan Himar terlonjak kaget, refleks mereka mundur sedikit sambil saling dorong satu sama lain.

"Lu ngapain ngegas ke gue?!" Addar berbisik penuh nyolot.

"Lu aja yang pesen! Dia ngeliat gue mulu barusan!" Bisik himar tak kalah panik.

"Ya terus gue?!"

Banci itu berdecak, membuat Himar dan Addar berhenti satu sama lain. Mereka di sodorkan sebuah buku menu, yang di buat hasil dari print dan di solasi.

Banci itu tiba-tiba tersenyum, membuat mereka berdua bergedik geli. "Tenang aja mas, semuanya ada. Mau yang creamy, yang spicy, atau yang nendang pun ada."

Himar mengembuskan napasnya nyerah, "mie aceh aja saya. Lu apa," senggol Himar ke Addar.

"Samain aja."

"Mie aceh dua jadinya." Banci itu pun menulis di buku kecil yang sejak tadi sudah ada di tangannya.

"Oke. Jadinya satu porsi cinta, satu porsi kerinduan. Eh salah, itu orderan pribadi saya-aw!"

Addar mencekam ujung kaos Himar, "Astaga gue mau pulang."

Sedangkan Himar menghembuskan napas beratnya, tubuhnya nyadar lemas ke kursi. 

"Biasa aja kali." Matanya mereka melirik ke arah Pidi yang sibuk mengaduk-aduk kopi susunya.

"Lu kenal ya?!"

"Kenal lah. Di sini kalo nongkrong malem, pasti ketemu."

"Kerja di sini?" Addar berbisik, sadar orang itu sempat lewat di depan sana.

"Nggak juga. Orang sini nyebutnya maskot"

Badan Himar tegap, sedikit maju, "maskot??"

"Iya. Apa aja yang ada di warkop bisa di kerjain. Salah satunya tadi," ujarnya berlalu menyeruput kopinya.

"Namanya siapa emang?" Himae tak kalah penasarannya.

"Mbak Nindi. Tapi panggilannya kadang Nindut, kadang Mamah."

"Mamah?" Kedua alis Himar mengerut.

"Soalnya Mbak Nin suka bilang, 'sini nak, mamah buatin teh manis." Entah kenapa, Pidi jago sekali ketika memperagakan cara bicara Mbak Nindi.

"Gue takut, tapi pengen ketawa juga." Addar menjauh tubuhnya, membuat Pidi melempar orang itu dengan topi yang ada di atas meja.

"Tai lu, maksud lo apa?"

"Ya lu jangan memperagakan semenghanyutkan itu. Gue hampir ngira lu muridnya Mbak Nindi!" Tawa Himar pecah, sedangkan Pidi dan Addar sudah melempar pandangan yang berlawanan.

"Mas Himar, Mas Addar pesenannya di tunggu ya! Mamah masakkin dulu." Kini Himar dan Addar saling tukar pandangan. Membuat Pidi tertawa terbahak-bahak.

"Bangsat banget lu Pid!!"

Tera Muda on X or Tiktok by hiimilan 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu 05.48 AM ° Tera Muda au

Kita Tidak Searah