Antara Menang dan Kalah
Telepon seluler ku banting, dentumnya membengkak pikiran. Lagi-lagi urusan kantor tidak bisa aku atasi, kekacauan ini sudah merayap seminggu yang lalu, dan pikiran ku pun tidak kunjung tenang. Kupandang arah pintu, di mana Mila berdiri dengan setumpuk berkas “Lama-lama gue gila ngurusin kasus sekretaris lu!” Mataku seketika menyalang, “kan teman lu juga!” seru ku geram. Langkah perempuan itu merapat di kelilingi hembusan napasnya yang berat. Jelas Mila gelisah, tapi lebih dari itu aku yang nyaris sinting. Mitra bisnis yang sebelumnya sudah dihimpun, banyak kolega-kolega yang-bajingan! Aku tidak mau menyebut namanya. Orang itu sukses membawa kabur uang kolaborator dan hanya meninggalkan data-data kolega itu sendiri. Dan kini, kantor ku benar-benar diserang kerusuhan. Aku harus menangani banyaknya gugatan, jika aku gagal sesaat perusahaan ini akan jatuh sejatuhnya. “Vi, lu nggak mau minta bantuan cowok lu aja? Kan dia pengacara.” Berkas yang diletakkan mengalihkan perhatian ku. “Maksudny...