Antara Menang dan Kalah

Telepon seluler ku banting, dentumnya membengkak pikiran. Lagi-lagi urusan kantor tidak bisa aku atasi, kekacauan ini sudah merayap seminggu yang lalu, dan pikiran ku pun tidak kunjung tenang.

Kupandang arah pintu, di mana Mila berdiri dengan setumpuk berkas

“Lama-lama gue gila ngurusin kasus sekretaris lu!” Mataku seketika menyalang, “kan teman lu juga!” seru ku geram. Langkah perempuan itu merapat di kelilingi hembusan napasnya yang berat. Jelas Mila gelisah, tapi lebih dari itu aku yang nyaris sinting.

Mitra bisnis yang sebelumnya sudah dihimpun, banyak kolega-kolega yang-bajingan! Aku tidak mau menyebut namanya. Orang itu sukses membawa kabur uang kolaborator dan hanya meninggalkan data-data kolega itu sendiri. Dan kini, kantor ku benar-benar diserang kerusuhan.

Aku harus menangani banyaknya gugatan, jika aku gagal sesaat perusahaan ini akan jatuh sejatuhnya.

“Vi, lu nggak mau minta bantuan cowok lu aja? Kan dia pengacara.” Berkas yang diletakkan mengalihkan perhatian ku.

“Maksudnya?” Kedua alis ku menyatu, “Gue minta dia jadi tameng buat ngusut semua masalah ini?”

“Iya, itu kan emang kerjaan dia. Paling nggak bisa meringankan beban kita. Gue liat anak-anak udah pada capek, apalagi lu.”

“Hmm… iya juga, nanti gue coba bicarakan.” Mila meninggalkan ruangan, dan aku benar-benar harus bergulat di depan berkas-berkas itu, membaca satu persatu gugatan. Bahkan 75% lebih banyak berkas petisi daripada data afiliasi yang mau bekerja sama.

Entah aku akan pulang kapan, aku sudah jarang pulang sejak Tirta siala itu meninggalkan kami dengan beban segila ini!

Begitu isi pikiran ku habis dan lapar akan damai, aku memilih pulang, meninggalkan kantor. 

Kala kaki ku sampai ke pekarangan rumah, aku sadar ada seseorang yang menunggu. Pradeepa, laki-laki itu duduk di depan sana dengan kepala menunduk. Kepalanya terangkat, sesaat aku sadar kusut juga menghias wajahnya.

“Hai sayang.” Sapanya begitu aku dekap erat, keluh ku pecah terdengar begitu memalukan di telinga. Jujur aku letih, tapi bibirku tak senyap, walau tahu Pra sama lelahnya.

“Aku sengaja mampir. Nih, aku bawain makanan favorit kamu.” Wajah itu tersenyum hangat sekali, dan entah kenapa gelisah di hati ku mulai pecah, bertaburan lenyap dari jiwa ku yang sebelumnya mengikat.

Tangan Pra terangkat, membelai kedua pipiku, rautnya benar-benar teduh, seperti bulan malam yang menyejukkan hatiku setiap kali ku pandang. Namun hari-hari ku sudah tidak ada bulan, hanya ada Pradeepa dengan senyumannya. 

“Are you okay, sayang?” Lagi-lagi tangis ku retak. Siapa yang bisa berlagak kuat di hadapan laki-laki seperti Pra. Ia selalu ada, selalu memeluk sisi rapuh ku, menjadi orang yang paling tidak pelit senyum, pelukan, dan tawanya.

“Rusak, Pra. Kantor aku hancur.” 

“Eh, nggak sayang. Jangan bilang gitu.” Satu tangannya bergerak, mengelus pucuk kepala ku, “Kita nggak pernah tau besok gimana. Yang jelas, kamu udah berusaha sekuat mungkin. Aku yakin kamu bisa ngelewatin ini.” 

“Sekarang, tolong istirahat dulu, ya.” Sekotak dimsum dia kerahkan, beralih dengan sebotol minuman.

“Jaga kesehatan ya sayang, aku pulang dulu.” Begitu mobil Pra berlalu tubuhku terduduk. Wajahku dirias senyum, tidak bahagia, tidak sedih. Aku tahu Pra tidak baik-baik saja, tapi laki-laki itu masih ada disini, menjaga kewarasannya di tengah kewarasan laki-laki itu tidak baik-baik saja.

Nyatanya hanya aku yang Ia sembuhkan, tapi tidak dirinya.

***

Hari ini tak jauh beda dari kemarin, tapi hari ini jauh lebih buruk dari harapan aku malam tadi.

Aku dan Mila sudah duduk berdampingan di ruang kerja ku sendiri. Tapi kini, lawan yang biasanya aku hadapi bukan hanya kolega yang tertipu, tapi ada Pradeepa. Laki-laki itu duduk di depan ku layaknya partner kerja.

Roma wajahnya sama seperti semalam, kusut menghias.

Sekarang aku tahu, apa yang membuatnya selelah ini, apa yang membuatnya ikut kusut malam itu. Ia harus mediasi dengan ku di kala Ia tau sefrustasi apa aku dengan kasus ini.

Sekarang orang yang bisa menjadi obat kegilaan ku menjadi penambah dari kegilaan itu sendiri.

“Dari bukti yang ada, klien saya, Pak Arman, kehilangan dana sebesar 20 juta rupiah. Dana itu raib melalui transaksi ilegal yang dilakukan sekretaris perusahaan Anda.” Mataku memicing, bukan karena nominal gila itu, tapi karena aku tidak pernah tahu bahwa kekasih ku sendiri akan menjadi musuhku dalam kasus ini!

Tirta memang bajingan!

“Yah, saya tau, dan semua laporan keuangan di handle sekretaris saya.”

Aku melihat Pak Arman nyaris meledak, tapi sikapnya yang menggertak meja membuat tubuhku menegak. “Saya nggak peduli siapa yang ngatur! Faktanya uang saya hilang!”

“Sesuai tuntutan, dana tersebut harus dikembalikan sebelum tanggal 20 september. Artinya, anda hanya punya waktu seminggui. Jika tidak, kasus ini akan dibawa ke jalur hukum.

“Gila,...” Mila bergumam, punggungku jatuh. 

Aku tidak seperti ini biasanya, walau aku penat dengan surat gugatan yang tanpa henti bertambah aku akan tetap tegar dan berusaha memperkokoh kewarasan ku di depan klien. Tapi ini Pradeepa, Ia sendiri tahu aku menangis sesegukan semalam.

“Pak, tidak bisakah ini dikonsultasikan kembali? Kami paham kerugian klien sangat besar, dan kami tidak menutup mata. Tapi seminggu terlalu singkat. Kami tubuh waktu lebih untuk menyelesaikan ini!” Bibirku keluh, bahkan untuk menatap tilik Pra aku sudah tidak kuat. 

Bagaimana ini, mitra kerja yang tertipu pengacaranya adalah seorang Pradeepa-penyembuh lelah ku.

Selepas ini, kemana aku akan pulih jika saja Pradeepa juga diwajibkan untuk bisa membereskan tugasnya. Bukankah hubungan kita akan kacau setelah ini?

“Seminggu atau tidak sama sekali!” Mata Arman memerah, aku yakin betul Ia ingin melempar wajah melasku dengan benda apapun.

“Kami mengerti. Tapi klien tetaplah klien. Jika sampai tanggal jatuh tempo tidak terpenuhi, kami tidak segan melanjutkan kasus ini.” Begitu diskusi yang kebanyakan diambil alih oleh Mila, aku bangun dari duduk membiarkan Pra mengikutiku dari belakang.

Disini sekarang kita, saling memandangi di dapur kantor. Wajahnya tidak berubah sejak tadi. Masih hampa dan kusut.

“Aku minta maaf-”

“Harusnya kamu bilang dari awal.”

“Walaupun aku bilang, dan berujung aku harus menolak, aku tetap nggak bisa, sayang.” Kepala ku menggeleng, aku lelah. Kenapa masalah ini semakin terjang. 

“Dia klien kepala firm aku, dan aku harus ambil alih kasus ini karena beliau lagi di luar kota.” Ah gila, masalah begini benar-benar bikin aku tambah gila.

“Jadi kedepannya siapa yang harus ngalah? Aku? Aku nggak bisa kasih duit sebanyak itu dalam waktu dekat. Perusahaanku benar-benar hancur. Tirta bawa semua, bukan cuma dari kolaborator, tapi semua.”

“Aku juga nggak mungkin stop dan ngalah. Kalau aku lepas, karier ku habis. Aku terikat janji sama firm.” Aku terkejut, tapi lucu juga. Kenapa aku harus kaget? Jelas tidak akan ada solusi dalam perdebatan ini. Hanya waktu yang bisa menjawab, dan waktu sekarang masih sangat merahasiakan jawabannya.

“Jadi kita sekarang musuh, ya?”

“Kita tetap kita, sayang. Tapi di tempat ini, aku pengacara dan kamu tergugat.”

Kepalaku semakin pusing, tanpa banyak bicara aku pergi dari sana. Mengabaikan panggilan Pra yang terus-terusan berusaha menahanku. Mila di ambang pintu hanya menatap, dia sama kacaunya sekarang.

***

Sudah lebih dari lima hari, dan masalah ini tidak kunjung selesai. Kabar Tirta yang tengah di cari-cari juga tidak kunjung ada, dan kabar Pra pun tidak ada. Mungkin memang benar, kita sedang bertengkar dan memperebut siapa yang akan menjadi pemenangnya. 

Hari-hari dengan arsip gugatan tuntutan, dan bertemu berbagai macam pengacara. Sialnya Tirta memang tau partner kaya sehingga mudah baginya menipu dengan uang sebanyak itu.

Wajahku terangkat, ku tatap layar ponsel yang menyala, ada pesan dari salah satu pengacara. Namun bukan itu yang menarik perhatian ku. Wajah Pra yang tersenyum indah terpanjang di sana. Sudah lama aku tidak melihatnya. Ia sedang apa ya? Apa Ia juga sedang memikirkan ku?

Kapan masalah ini bisa berakhir dan kapan aku bisa berhenti bermain lomba-lombaan dengannya. Tidak bisakah aku dan Pra kembali sebagai obat dari semua rasa lelah kami?

Tapi Ia sendiri tidak kunjung ada kabar, dan aku rindu keberadaannya yang tiba-tiba.

Kini langit gelap, aku sudah pulang ke rumah. Mobil yang biasanya terparkir di pekarangan rumah sudah jarang ada. Sosoknya yang duduk di teras rumah dengan tote bag makanan sudah lenyap.

Kemana perginya Pradeepa dan senyumnya?

***

Pradeepa muncul, tepat seminggu. Ia hadir ketika aku ingin berlabuh lagi dengan derita ku. Ia sudah duduk di depan rumah, dengan kepala menunduk, entah kapan laki-laki itu ada di sini, yang jelas aku tahu Pra sempat tertidur.

“Sayang,” bisiknya, aku tidak bisa menahan diriku untuk marah apalagi kecewa, aku hanya rindu dengannya. Jadi ketika tubuh itu berdiri, aku berlari mendekap erat. Melepaskan lelah ku, menangis, meraung, bertanya-tanya ke mana selama ini Pradeepa pergi.

“Aku kangen kamu, Pra…”

“Tolong jangan menghilang kayak gini lagi.”

“Aku nggak pernah menghilang, sayang.” suaranya serak, agaknya Pra mulai menangis. “Aku ada, dan aku bakal selalu ada buat kamu. Aku pergi bukan karena ninggalin, tapi karena nyari jalan keluar. Aku udah tau di mana Tirta.” 

Wajah ku terangkat, air mataku jatuh. Pilu ku hari itu, tentang bisakah kita kembali menjadi obat benar-benar terjadi. Pradeepa bukan hanya obat, Ia juga solusi dari banyaknya pemicu.

“Pra,...” Aku mempererat pelukan ku, menenggelamkan wajah yang susah-susah ku rakit ceria kini remuk oleh tangis. 

“Aku nggak mau jadi yang kalah, tapi aku mau jadi solusi buat kamu dan aku. Flavia, kamu bukan lawan aku, kamu bagian dari aku. Aku nggak rela masalah ini ngancurin kita begitu aja.” Ia berbisik, wajahnya menunduk mengecup pucuk kepala ku lama.

“Dan aku kan sudah bilang, akan selalu ada kemudahan selama kamu berusaha. Kamu hebat udah jalan sejauh ini. Aku bangga banget sama kamu.” Aku senang, aku bahagia. Akhirnya, apa yang menjadi kegelisahan ku sudah terjawabkan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waktu 05.48 AM ° Tera Muda au

Warkop Pertigaan °TeraMudaAu

Kita Tidak Searah