Postingan

Tips Menulis Genre Dark Romance: Ketika Cinta dan Luka Berjalan Bersisian

Sebelum menyelam ke dalam genre dark romance, alangkah baiknya memahami apa itu dark romance. Dark romance bukanlah kisah cinta remaja yang manis, apalagi romansa dewasa yang matang. Genre ini justru menggambarkan hubungan yang tumbuh di balik sisi tergelap manusia. Kisah cinta ini selalu melibatkan emosi yang intens antara dua karakter, biasanya terjadi di situasi penuh bahaya, tekanan, dan jauh dari kisah cinta pada umumnya. Kalau kamu mau mulai menulis dark romance, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sejak awal. 1. Alur Dalam dark romance, cerita berkembang di lingkungan yang penuh konflik. Alurnya jarang berjalan lurus, selalu berliku, naik turun, dan berubah arah, sudah seperti roller coaster. Awalan cerita ini tidak di buka dengan cinta, tapi luka, trauma, atau bahkan ketidak sengajaan yang mengharuskan para karakter saling terikat. Jadi romansa mereka akan hadir di pertengahan, di situasi mereka yang tidak mendukung.   Sama halnya dengan alur cerita Rescue Me...

Antara Menang dan Kalah

Telepon seluler ku banting, dentumnya membengkak pikiran. Lagi-lagi urusan kantor tidak bisa aku atasi, kekacauan ini sudah merayap seminggu yang lalu, dan pikiran ku pun tidak kunjung tenang. Kupandang arah pintu, di mana Mila berdiri dengan setumpuk berkas “Lama-lama gue gila ngurusin kasus sekretaris lu!” Mataku seketika menyalang, “kan teman lu juga!” seru ku geram. Langkah perempuan itu merapat di kelilingi hembusan napasnya yang berat. Jelas Mila gelisah, tapi lebih dari itu aku yang nyaris sinting. Mitra bisnis yang sebelumnya sudah dihimpun, banyak kolega-kolega yang-bajingan! Aku tidak mau menyebut namanya. Orang itu sukses membawa kabur uang kolaborator dan hanya meninggalkan data-data kolega itu sendiri. Dan kini, kantor ku benar-benar diserang kerusuhan. Aku harus menangani banyaknya gugatan, jika aku gagal sesaat perusahaan ini akan jatuh sejatuhnya. “Vi, lu nggak mau minta bantuan cowok lu aja? Kan dia pengacara.” Berkas yang diletakkan mengalihkan perhatian ku. “Maksudny...

Kita Tidak Searah

Di atas deburan ombak kaki ku berkali-kali terhempas, terbawa deras buih laut. Mata teduh ku yang lagi-lagi bengkak, tidak bisa aku hindari begitu tiba di tempat ini. Hai, Laras. Aku kembali, ke tempat ini dengan harapan yang sama. Semoga takdir kita akan saling bertemu, dan kemudian rindu ini bisa aku lepaskan. Laras, aku rindu padamu. Perihal wajah, suara, dan sikapmu. Segala keindahan dalam dirimu ingin segerah aku peluk dengan gratis kecupan di pucuk kepala. Ah, sial. Apa aku boleh mengharapkan sosoknya yang sudah tidak lagi bersama ku? Aku tahu ini salah, tapi rindu bukanlah lawan yang bisa aku kalahkan. Ia akan memberontak, akan berlari mencari-cari induknya untuk bisa kembali legah. Aku pikir aku bisa melupakan hari-hari kita. Tapi ternyata aku tidak bisa. Waktu yang kita habiskan, tidak sedetik terlupakan. Bahkan aku masih ingat dengan jelas hari di mana kamu bercerita tentang interior pernikahan, membayangkan kita yang saling bersanding di atas venue di atas putih bersihnya pa...

Warkop Pertigaan °TeraMudaAu

Himar memutar setir dengan satu tangan. Pandangannya tenang, lehernya sedikit miring saat menatap pertigaan yang mulai ramai. Tempat ini memang bukan markas anak muda. Lebih sering dipenuhi banci-banci yang doyan nyapa duluan. "Mar kita jadi bahan fanservice gratis gini?" Addar bersandar malas di kursi, pandangannya menyapu dua sisi jalan.  "Lu diem aja Dar, jangan bikin eye contact, ntar dikira kita open BO." Addar semakin melebarkan matanya. "Gila lu?! Gue aja udah tahan napas dari tadi." Himar nyetir sambil tertawa, satu tangannya nutupin mulut, satunya tetap di setir. Mobil jalan pelan, tapi tawa dia udah nyaring seperti sirine. "Buset motor semua Dar. Udah kaya tempat lelang motor bodong." Itu satu hal yang mereka berdua sadari. Entah dari kiri kanan, semua jalan di penuhi motor, bahkan mereka tidak melihat ada mobil satu pun. "Dar, Dar, sumpah! Itu banci ngegas ke arah kita anjir." Himar memelankan mobilnya, sadar ada bapak-bapak ...

Waktu 05.48 AM ° Tera Muda au

Jam masih menuju pukul 05.48 A.M, di mana hawa masih memeluk dingin. Tuntas mematikan layar ponselnya, Himar mendengus kesal. Jikalau saja bukan karena Dara, mungkin sekarang ia sudah bisa ngopi di teras rumah sebelum berangkat ke kampus, bukan di waktu sepagi ini. Bahkan kucing jalanan yang biasanya ia temui di pintu masuk kampus belum juga kumpul untuk mengemis makanan. Ini dia sudah harus jongkok sendirian di depan pintu Studio yang entah kapan akan terbuka. "Kak Himar ya?" Laki-laki itu menoleh, mendapati perawakan manis yang tak asing. Matanya sedikit memastikan, "lu bukannya adiknya Pidi ya?"  "Ah yah, gue Satinah Hasmita, panggil aja Satinah kak." Gadis itu menyodorkan tangannya. Dalam posisi jongkok seperti ini membuat Himar bergegas bangkit dan membalas uluran tangan. "Yah, gue Himar Endru. Lu?" Satinah melepaskan tautan tangan mereka, menunjuk studio. "Gue managemen TM, kak." Himar jelas terkejut. Dia yang tidak pernah tau sos...

Secangkir Kopi dan Jiwa yang Patah

Aku hanya mengenal diriku lewat kopi yang ku teguk setiap malam, sebuah kebiasaan yang perlahan berubah menjadi rutinitas. Malam yang sunyi akan menjadi saksi bisu, saat aku meneguk tetesan kopi pahit, seolah ia memelukku erat, melindungiku dari keharusan untuk bangun di pagi hari. Karena jika aku terbangun di pagi hari, aku akan melihat mereka yang tertawa lepas, seakan beban yang kupikul tak pernah menghinggapi mereka, seolah rasa sakit yang setiap hari kuterima tak pernah menyentuh dunia mereka. Aku enggan melihat senyum lepas mereka, karena setiap kali mereka tersenyum, rasanya seperti menyaksikan pencuri kebahagiaan yang telah lama hilang dariku. Kopi menjadi pelindung dalam keheningan, menyelimutiku dari kerasnya kenyataan yang tak mampu ku hadapi. Satu cangkir, dua cangkir, hingga tubuhku mulai merasa lelah, dan kantuk mulai merayap. Aku tak peduli. Aku tahu, setelah itu, aku akan terlelap dalam tidur panjang, tak peduli dengan matahari yang akan terbit. Dalam hening malam ku, a...

Dua Tulip

Mentari membakar langit Ibu Kota siang itu, menyulut aspal yang mulai mengelupas letih. Di tepi halte, Guaman berdiri kaku, tubuhnya dibungkus diam. Matanya terpaku pada sosok gadis bersandar di seberang, duduk tenang bersama setangkai bunga tulip putih yang selalu menemaninya. Entah sudah berapa hari Guaman melintasi halte ini hanya untuk melihatnya. Untuk sekadar mencuri pandang dari kejauhan. Baginya, gadis itu bukan sekadar manis. Ia adalah musim semi yang hadir di tengah Ibu Kota yang terik. Senyuman Guaman tak pernah lepas dari wajahnya, bagaimana gadis itu terus melamun memutar-mutar tangkai tulip. Mata gadis itu sendu, birai tipis dan hidung bangirnya. Gaun kuning yang ia kenakan seolah berasal dari masa lalu yang tak mampu Guaman ingat dengan jelas. "Cantik sekali dirimu." Bisik Guaman dalam hati. Ia ingin menyapa. Tapi kakinya selalu kalah oleh gugup yang menahan. "Siapa namamu?" tanyanya lirih, seperti sedang berdialog dengan angin. "Sampai hari ini ...